Selamat pagi... Maaf ya sahabat-sahabat HOS udah dua hari ini HOS gak memposting berita-berita tentang penyakit ataupun sejenisnya, tapi tenang kali ini HOUSE OF SUCCESS akan membahas tentang "POLIO" yang sering kali dan banyak diderita oleh anak-anak namun jangan sangka penyakit polio juga bisa terkena dengan orang dewasa dikarnakan virus yang bernama poliovirus (PV).
Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Yaitu Aagen pembawa penyakit ini, dan dinamakan poliovirus (PV) yang masuk ke tubuh melalui mulut dan mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis). Pada bulan Maret 2014, WHO untuk kawasan Asia Tenggara, menyatakan bahwa kawasan Asia Tenggara telah bebas dari polio, karena itu vaksinasi polio pada bayi sudah tidak perlu diberikan lagi. Polio sudah dikenal sejak zaman pra-sejarah. Lukisan dinding di kuil-kuil Mesir kuno yang menggambarkan orang-orang sehat dengan kaki layu yang berjalan dengan tongkat. Kaisar Romawi Claudius terserang polio ketika masih kanak-kanak dan menjadi pincang seumur hidupnya.
Virus polio menyerang tanpa peringatan, merusak sistem saraf
menimbulkan kelumpuhan permanen, biasanya pada kaki. Sejumlah besar
penderita meninggal karena tidak dapat menggerakkan otot pernapasan.
Ketika polio menyerang Amerika selama dasawarsa seusai Perang Dunia II,
penyakit itu disebut ‘momok semua orang tua’, karena menjangkiti
anak-anak terutama yang berumur di bawah lima tahun. Di sana para orang
tua tidak membiarkan anak mereka keluar rumah, gedung-gedung bioskop dikunci, kolam renang, sekolah dan bahkan gereja di tutup.
Virus polio
Poliovirus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas tiga strain
berbeda dan sangat menular. Virus akan menyerang sistem saraf dan
kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa
mengenal usia, lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3
hingga 5 tahun. Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3
hingga 35 hari. Polio adalah penyakit menular yang dikategorikan sebagai penyakit
peradaban. Polio menular melalui kontak antarmanusia. Polio dapat
menyebar luas diam-diam karena sebagian besar penderita yang terinfeksi
poliovirus tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka
sendiri sedang terjangkit. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut
ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses.
Setelah seseorang terkena infeksi, virus akan keluar melalui feses
selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus.
Jenis Polio
Polio non-paralisis.
Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan
sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek
jika disentuh.
Polio paralisis spinal
Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang,
menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang
tubuh dan otot tungkai. Meskipun
strain ini dapat menyebabkan
kelumpuhan permanen, kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan
mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadi pada
kaki. Setelah virus polio menyerang usus, virus ini akan diserap oleh
pembulu darah kapiler pada dinding usus dan diangkut seluruh tubuh. Virus Polio menyerang saraf tulang belakang dan syaraf motorik yang mengontrol gerakan fisik. Pada periode inilah muncul gejala seperti flu.
Namun, pada penderita yang tidak memiliki kekebalan atau belum
divaksinasi, virus ini biasanya akan menyerang seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batang otak.
Infeksi ini akan memengaruhi sistem saraf pusat, menyebar sepanjang
serabut saraf.
Polio bulbar
Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga
batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung syaraf motorik yang
mengatur pernapasan dan saraf kranial, yang mengirim sinyal ke berbagai
syaraf yang mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf
muka yang berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot
muka; saraf auditori yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal
yang membantu proses menelan dan berbagai fungsi di kerongkongan;
pergerakan lidah dan rasa; dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher.
Tanpa alat bantu pernapasan, polio bulbar dapat menyebabkan kematian.
Lima hingga sepuluh persen penderita yang menderita polio bulbar akan
meninggal ketika otot pernapasan mereka tidak dapat bekerja. Kematian
biasanya terjadi setelah terjadi kerusakan pada saraf kranial yang
bertugas mengirim 'perintah bernapas' ke paru-paru. Penderita juga dapat
meninggal karena kerusakan pada fungsi penelanan; korban dapat
'tenggelam' dalam sekresinya sendiri kecuali dilakukan penyedotan atau
diberi perlakuan trakeostomi
untuk menyedot cairan yang disekresikan sebelum masuk ke dalam
paru-paru. Namun trakesotomi juga sulit dilakukan apabila penderita
telah menggunakan 'paru-paru besi' (
iron lung).
Tingkat kematian karena polio bulbar berkisar 25-75% tergantung usia
penderita. Hingga saat ini, mereka yang bertahan hidup dari polio jenis
ini harus hidup dengan paru-paru besi atau alat bantu pernapasan. Polio
bulbar dan spinal sering menyerang bersamaan dan merupakan sub kelas
dari polio paralisis. Polio paralisis tidak bersifat permanen. Penderita
yang sembuh dapat memiliki fungsi tubuh yang mendekati normal.
Anak-anak dan polio
Anak - anak kecil yang terkena polio seringkali hanya mengalami gejala
ringan dan menjadi kebal terhadap polio. Karenanya, p
enduduk di daerah
yang memiliki sanitasi baik justru menjadi lebih rentan terhadap polio
karena tidak menderita polio ketika masih kecil. Vaksinasi pada saat
balita akan sangat membantu pencegahan polio pada masa depan karena
polio menjadi lebih berbahaya jika diderita oleh orang dewasa. Orang
yang telah menderita polio bukan tidak mungkin akan mengalami gejala
tambahan pada masa depan seperti layu otot
atau gejala ini disebut sindrom
post-polio.
GEJALA
Terdapat 3 pola dasar pada infeksi polio:
Infeksi subklinis, Non-paralitik dan Paralitik. 95% kasus merupakan infeksi subklinis. Poliomielitis klinis menyerang
sistem saraf pusat (otak dan korda spinalis) serta erbagi menjadi
non-paralitik serta paralitik. Infeksi klinis bisa terjadi setelah
penderita sembuh dari suatu infeksi subklinis.
Infeksi subklinis (tanpa gejala atau gejala berlangsung selama kurang dari 72 jam)
-
demam ringan
-
sakit kepala
-
tidak enak badan
-
nyeri tenggorokan
-
tenggorokan tampak merah
-
muntah.
Poliomielitis non-paralitik (gejala berlangsung selama 1-2 minggu)
-
demam sedang
-
sakit kepala
-
kaku kuduk
-
muntah
-
diare
-
kelelahan yang luar biasa
-
rewel
-
nyeri atau kaku punggung, lengan, tungkai, perut
-
kejang dan nyeri otot
-
nyeri leher
-
nyeri leher bagian depan
-
kaku kuduk
-
nyeri punggung
-
nyeri tungkai (otot betis)
-
ruam kulit atau luka di kulit yang terasa nyeri
-
kekakuan otot.
-
Poliomielitis paralitik
-
demam timbul 5-7 hari sebelum gejala lainnya
-
sakit kepala
-
kaku kuduk dan punggung
-
kelemahan otot asimetrik
-
onsetnya cepat
-
segera berkembang menjadi kelumpuhan
-
lokasinya tergantung kepada bagian korda spinalis yang terkena
-
perasaan ganjil/aneh di daerah yang terkena (seperti tertusuk jarum)
-
peka terhadap sentuhan (sentuhan ringan bisa menimbulkan nyeri)
-
sulit untuk memulai proses berkemih
-
sembelit
-
perut kembung
-
gangguan menelan
-
nyeri otot
-
kejang otot, terutama otot betis, leher atau punggung
-
ngiler
-
gangguan pernafasan
-
rewel atau tidak dapat mengendalikan emosi
-
refleks Babinski positif.
Vaksin efektif pertama
Vaksin efektif pertama dikembangkan oleh Jonas Salk.
Salk menolak untuk mematenkan vaksin ini karena menurutnya vaksin ini
milik semua orang seperti halnya sinar matahari. Namun vaksin yang
digunakan untuk inokulasi masal adalah vaksin yang dikembangkan oleh Albert Sabin. Inokulasi pencegahan polio anak untuk pertama kalinya diselenggarakan di Pittsburgh, Pennsylvania pada 23 Februari 1954. Polio hilang di Amerika pada tahun 1979.
Usaha pemberantasan polio
Pada tahun 1938, Presiden Roosevelt
mendirikan Yayasan Nasional Bagi Kelumpuhan Anak-Anak, yang bertujuan
menemukan pencegah polio dan merawat mereka yang sudah terjangkit oleh polio.
Y
ayasan itu membentuk March of Dimes. Ibu-ibu melakukan kunjungan
dari rumah ke rumah lalu anak-anak membantu melakukan sesuatu untuk orang
lain, bioskop memasang iklan, semuanya bertujuan minta bantuan satu
dime,
atau sepuluh sen. Dana yang masuk waktu itu digunakan untuk membiayai
penelitian Dokter Jonas Salk yang menghasilkan vaksin efektif pertama.
Tahun 1952, di Amerika terdapat 58 ribu kasus polio. Tahun 1955 vaksin Salk mulai digunakan. Tahun 1963, setelah puluhan juta anak divaksin, di Amerika hanya ada 396 kasus polio.
Pada tahun 1955, Presiden Dwight Eisenhower
mengumumkan bahwa Amerika akan mengajarkan kepada negara-negara lain
cara membuat vaksin polio. Informasi ini diberikan secara gratis, kepada
75 negara, termasuk Uni Soviet. Tahun 1988, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mensahkan resolusi untuk menghapus polio sebelum tahun 2000.
Pada saat itu masih terdapat sekitar 350 ribu kasus polio di seluruh
dunia termasuk Indonesia. Meskipun pada tahun 2000 polio masih belum terbasmi secara seutuhnya, tetapi jumlah
kasusnya telah berkurang hingga di bawah 500. Polio tidak ada lagi di
Asia Timur, Amerika Latin, Timur Tengah atau Eropa, tetapi masih terdapat di Nigeria dan sejumlah kecil di India dan Pakistan.
India telah melakukan usaha pemberantasan polio yang cukup sukses.
Sedangkan di Nigeria, penyakit ini masih terus berjangkit karena
pemerintah yang berkuasa mencurigai vaksin polio yang diberikan dapat
mengurangi fertilitas dan menyebarkan HIV. Pada tahun 2004,
pemerintah Nigeria meminta WHO untuk melakukan vaksinasi lagi setelah
penyakit polio kembali menyebar ke seluruh Nigeria dan 10 negara
tetangganya. Konflik internal dan perang saudara di Sudan dan Pantai Gading juga mempersulit pemberian vaksin polio.
Meskipun banyak usaha telah dilakukan, pada tahun 2004 angka infeksi
polio meningkat menjadi 1.185 di 17 negara dari 784 di 15 negara pada
tahun 2003. Sebagian penderita berada di Asia dan 1.037 ada di Afrika. Nigeria memiliki 763 penderita, India 129, dan Sudan 112. Pada 5 Mei 2005, dilaporkan terjadi ledakan infeksi polio di Sukabumi akibat
strain virus yang menyebabkan wabah di Nigeria. Virus ini diperkirakan terbawa dari Nigeria ke Arab dan sampai ke Indonesia melalui tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Arab atau orang yang bepergian ke Arab untuk haji atau hal lainnya.
Pencegahan Polio
Vaksin polio merupakan bagian dari imunisasi rutin pada masa kanak-kanak.
Terdapat 2 jenis vaksin polio: Vaksin Salk, merupakan vaksin virus polio yang tidak aktif dan Vaksin Sabin, merupakan vaksin virus polio hidup. Yang memberikan kekebalan yang lebih baik (sampai lebih dari 90%) dan
yang lebih disukai adalah vaksin Sabin per-oral (melalui mulut). Tetapi
pada penderita gangguan sistem kekebalan, vaksin polio hidup bisa
menyebabkan polio. Karena itu vaksin ini tidak diberikan kepada
penderita gangguan sistem kekebalan atau orang yang berhubungan dekat
dengan penderita gangguan sistem kekebalan karean virus yang hidup
dikeluarkan melalui tinja. Dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio dan hendak
mengadakan perjalanan ke daerah yang masih sering terjadi polio,
sebaiknya menjalani vaksinasi terlebih dahulu.
HEAD OFFICE
Jl.Purnawirawan (Gg.Ratu) NO.18 Gedong Meneng, Bandar Lampung. Indonesia
Telp. 0721-712029