Rabu, 17 September 2014

Tuberkulosis (Tuberculosis, disingkat Tbc) atau Tb (singkatan dari "Tubercle bacillus") merupakan penyakit menular yang umum dan dalam banyak kasus bersifat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria, yang umumnya oleh Mycobacterium tuberculosis (disingkat "MTb" atau "MTbc"). Tuberkulosis biasanya menyerang paru-paru, namun juga bisa berdampak pada bagian tubuh lainnya. Tuberkulosis menyebar melalui udara ketika seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin, atau menyebarkan butiran ludah mereka melalui udara. Infeksi TB umumnya bersifat asimtomatikdan laten. Namun hanya satu dari sepuluh kasus infeksi laten yang berkembang menjadi penyakit aktif. Bila Tuberkulosis tidak diobati maka lebih dari 50% orang yang terinfeksi bisa meninggal.

Gejala klasik infeksi TB aktif yaitu batuk kronis dengan bercak darah sputum atau dahak, demam, berkeringat di malam hari dan berat badan turun derastis. Dahulu TB atau TBC disebut penyakit "konsumsi" karena orang-orang yang terinfeksi biasanya mengalami kemerosotan berat badan. Infeksi pada organ lain menimbulkan gejala yang bermacam-macam. Diagnosis TB aktif bergantung pada hasil radiologi biasanya melalui sinar-X dada, serta pemeriksaan mikroskopis dan pembuatan kultur mikrobiologis cairan tubuh. Sementara itu, diagnosis TB laten bergantung pada tes tuberkulin kulit/tuberculin skin test (TST) dan tes darah. Pengobatan sulit dilakukan dan memerlukan pemberian banyak macam antibiotik dalam jangka waktu lama. Orang-orang yang melakukan kontak juga harus menjalani tes penapisan dan diobati bila perlu. Resistensi antibiotik merupakan masalah yang bertambah besar pada infeksi tuberkulosis resisten multi-obat (TB MDR). Untuk mencegah TB, semua orang harus menjalani tes penapisan penyakit tersebut dan mendapatkan vaksinasi basil Calmette–Guérin.

Para ahli percaya bahwa sepertiga populasi dunia telah terinfeksi oleh M. tuberculosis dan infeksi baru terjadi dengan kecepatan satu orang per satu detik. Pada tahun 2007, diperkirakan ada 13,7 juta kasus kronis yang aktif di tingkat global. Pada tahun 2010, diperkirakan terjadi pertambahan kasus baru sebanyak 8.8 juta kasus, dan 1,5 juta kematian yang mayoritas terjadi di negara berkembang. Angka mutlak kasus Tuberkulosis mulai menurun semenjak tahun 2006, sementara kasus baru mulai menurun sejak tahun 2002. Tuberkulosis tidak tersebar secara merata di seluruh dunia. Dari populasi di berbagai negara di Asia dan Afrika yang melakukan tes tuberkulin, 80%-nya menunjukkan hasil positif, sementara di Amerika Serikat, hanya 5–10% saja yang menunjukkan hasil positif. Masyarakat di dunia berkembang semakin banyak yang menderita Tuberkulosis karena kekebalan tubuh mereka yang lemah. Biasanya, mereka mengidap Tuberkulosis akibat terinfeksi virus HIV dan berkembang menjadi AIDS. Pada tahun 1990-an Indonesia berada pada peringkat-3 dunia penderita TB, tetapi keadaan telah membaik dan pada tahun 2013 menjadi peringkat-5 dunia.

Tuberkulosis atau "konsumsi" seperti yang umumnya dikenal, disebabkan perhatian publik yang paling luas di abad ke-20 ke-19 dan awal sebagai penyakit endemis masyarakat miskin perkotaan. Pada tahun 1815, satu dari empat kematian di Inggris oleh penyakit TB atau TBC, oleh karna itu pada tahun 1918 satu dari enam kematian di Prancis masih disebabkan oleh TB. Pada abad ke-20 TB menewaskan sekitar 100 juta orang diperkirakan. TBC adalah penyakit sering mematikan yang biasanya mempengaruhi paru-paru. Gejala batuk, penurunan berat badan, keringat malam, dan darah diwarnai dahak. Kerangka tetap menunjukkan bahwa orang-orang kembali di 7000 SM yang terinfeksi TB. 

Tanda-tanda dan gejala

Dari kelompok yang bukan pengidap HIV namun kemudian terinfeksi Tuberkulosis, 5-10% di antaranya menunjukkan perkembangan penyakit aktif selama masa hidup mereka. Sebaliknya, dari kelompok yang terinfeksi HIV dan juga terinfeksi Tuberkulosis, ada 30% yang menunjukkan perkembangan penyakit aktif. Tuberkulosis dapat menginfeksi bagian tubuh mana saja, tapi paling sering menginfeksi paru-paru (dikenal sebagai Tuberkulosis paru). Bila Tuberkulosis berkembang di luar paru-paru, maka disebut TB ekstra paru. TB ekstra paru juga bisa timbul bersamaan dengan TB paru. Tanda dan gejala umumnya antara lain demam, menggigil, berkeringat di malam hari, hilangnya nafsu makan, berat badan turun dan lesu. Dapat pula terjadijari tabuh yang signifikan.

Penyebab

Hasil pindai mikrograf elektron Mycobacterium tuberculosis
Penyebab utama penyakit TB adalah Mycobacterium tuberculosis, yaitu sejenis basil aerobik kecil yang non-motil. Berbagai karakter klinis unik patogen ini disebabkan oleh tingginya kandungan lemak atau lipid yang dimilikinya. Sel-selnya membelah setiap 16 –20 jam. Kecepatan pembelahan ini termasuk lambat bila dibandingkan dengan jenis bakteri lain yang umumnya membelah setiap kurang dari satu jam. Mikobakteria memiliki lapisan ganda membran luar lipid. Bila dilakukan uji pewarnaan Gram, maka MTB akan menunjukkan pewarnaan "Gram-positif" yang lemah atau tidak menunjukkan warna sama sekali karena kandungan lemak dan asam mikolat yang tinggi pada dinding selnya. MTB bisa tahan terhadap berbagai disinfektan lemah dan dapat bertahan hidup dalam kondisi kering selama berminggu-minggu. Di alam, bakteri hanya dapat berkembang dalam sel inang organisme tertentu, namun M. tuberculosis bisa dikultur di laboratorium.

Dengan menggunakan pewarnaan histologis pada sampel dahak yang diekspektorat, peneliti dapat mengidentifikasi MTB melalui mikroskop (dengan pencahayaan) biasa. (Dahak juga disebut "sputum"). MTB mempertahankan warna meskipun sudah diberi perlakukan larutan asam, sehingga dapat digolongkan sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Dua jenis teknik pewarnaan asam yang paling umum yaitu. Teknik pewarnaan Ziehl-Neelsen, yang akan memberi warna merah terang pada bakteri BTA bila diletakkan pada latar biru dan teknik pewarnaan auramin-rhodamin lalu dilihat dengan mikroskop fluoresen. Kompleks M. tuberculosis (KMTB) juga termasuk mikobakteria lain yang juga menjadi penyebab TB M. bovis, M. africanum, M. canetti dan M. microti. M. africanum tidak menyebar luas, namun merupakan penyebab penting Tuberkulosis di sebagian wilayah Afrika. M. bovis merupakan penyebab umum Tuberkulosis, namun pengenalan susu pasteurisasi telah berhasil memusnahkan jenis mikobakterium yang selama ini menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang ini. M. canetti merupakan jenis langka dan sepertinya hanya ada di kawasan Tanduk Afrika, meskipun beberapa kasus pernah ditemukan pada kelompok emigran Afrika. M. microti juga merupakan jenis langka dan seringkali ditemukan pada penderita yang mengalami imunodefisiensi, meski demikian, patogen ini kemungkinan bisa bersifat lebih umum dari yang kita bayangkan.

Faktor dan Resiko

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab mengapa orang lebih rentan terhadap infeksi TB. Di tingkat global, faktor resiko paling penting adalah HIV sebanyak 13% dari seluruh kasus TB ternyata terinfeksi juga oleh virus HIV.Masalah ini umum ditemukan di kawasan sub-Sahara Afrika, yang angka HIV-nya tinggi. Tuberkulosis terkait erat dengan kepadatan penduduk yang berlebihan serta gizi buruk. Keterkaitan ini menjadikan TB sebagai salah satu penyakit kemiskinan utama. Orang-orang yang memiliki resiko tinggi terinfeksi TB antara lain adalah orang yang menyuntik obat terlarang, penghuni dan karyawan tempat-tempat berkumpulnya orang-orang rentan. Misalnya, penjara dan tempat penampungan gelandangan, orang-orang miskin yang tidak memiliki akses perawatan kesehatan yang memadai, minoritas suku yang beresiko tinggi, dan para pekerja kesehatan yang melayani orang-orang tersebut. Penyakit paru-paru kronis adalah faktor resiko penting lainnya. Silikosis meningkatkan resiko hingga 30 kali lebih besar. Orang-orang yang merokok memiliki resiko dua kali lebih besar terkena TB dibandingkan yang tidak merokok. Adanya penyakit tertentu juga dapat meningkatkan resiko berkembangnya Tuberkulosis, antara lain alkoholisme/kecanduan alkohol dan diabetes mellitus (resikonya tiga kali lipat). Obat-obatan tertentu, seperti kortikosteroid dan infliximab (antibodi monoklonal anti-αTNF) juga merupakan faktor resiko yang semakin penting, terutama di kawasan dunia berkembang. Meskipun kerentanan genetik juga bisa berpengaruh, namun para peneliti belum menjelaskan sampai sejauh mana peranannya.

Pencegahan

Usaha untuk mencegah dan mengontrol tuberkulosis bergantung pada vaksinasi bayi dan deteksi serta perawatan untuk kasus aktif. The World Health Organization (WHO) telah berhasil mencapai sejumlah keberhasilan dengan regimen pengobatan yang dimprovisasi, dan sudah terdapat penurunan kecil dalam jumlah kasus.

Pencegahan Oleh Vaksin
Sejak tahun 2011, satu-satunya vaksin yang tersedia adalah bacillus Calmette–Guérin (BCG). Walaupun BCG efektif melawan penyakit yang menyebar pada masa kanak-kanak, masih terdapat perlindungan yang inkonsisten terhadap TB paru. Namun, ini adalah vaksin yang paling umum digunakan di dunia, dengan lebih dari 90% anak-anak yang mendapat vaksinasi. Bagaimanapun, imunitas yang ditimbulkan akan berkurang setelah kurang lebih sepuluh tahun. Tuberkulosis tidak umum di sebagian besar Kanada, Inggris Raya, dan Amerika Serikat, jadi BCG hanya diberikan kepada orang dengan resiko tinggi. Satu alasan vaksin ini tidak digunakan adalah karena vaksin ini menyebabkan tes kulit tuberlulin memberikan positif palsu, sehingga tes ini tidak membantu dalam penyaringan penyakit. Jenis vaksin baru masih sedang dikembangkan.

Penanganan TBC

Pengobatan TB menggunakan antibiotik untuk membunuh bakterinya. Pengobatan TB yang efektif ternyata sulit karena struktur dan komposisi kimia dinding sel mikobakteri yang tidak biasa. Dinding sel menahan obat masuk sehingga menyebabkan antibiotik tidak efektif. Dua jenis antibiotik yang umum digunakan adalah isoniazid, rifampicindan pengbatan dapat berlangsung berbulan-bulan. Pengobatan TB laten biasanya menggunakan antibiotik tunggal. Penyakit TB aktif sebaiknya diobati dengan kombinasi beberapa antibiotik untuk menurunkan resiko berkembangnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Pasien dengan infeksi laten juga diobati untuk mencegah munculnya TB aktif di kehidupan selanjutnya.WHO merekomendasikan directly observed therapy atau terapi pengawasan langsung, dimana seorang pengawas kesehatan mengawasi penderita meminum obatnya. Tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah penderita yang tidak meminum obat antibiotiknya dengan benar. Bukti yang mendukung terapi pengawasan langsung secara independen kurang baik. Namun, metode dengan cara mengingatkan penderita bahwa pengobatan itu penting ternyata efektif.

Wah ternyata TB atau TBC adalah penyakit yang termasuk mematikan di dunia, maka dari itu kita harus lebih waspada dan perhatian terhadap diri kita dan selalu menjaga kesehatan.


HEAD OFFICE
Jl.Purnawirawan (Gg.Ratu) No. 18 Gedong Meneng, Bnadar Lampung. Indonesia
Telp. 0721-712029



Selamat pagi... Maaf ya sahabat-sahabat HOS udah dua hari ini HOS gak memposting berita-berita tentang penyakit ataupun sejenisnya, tapi tenang kali ini HOUSE OF SUCCESS akan membahas tentang "POLIO" yang sering kali dan banyak diderita oleh anak-anak namun jangan sangka penyakit polio juga bisa terkena dengan orang dewasa dikarnakan virus yang bernama poliovirus (PV).

Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Yaitu Aagen pembawa penyakit ini, dan dinamakan poliovirus (PV) yang masuk ke tubuh melalui mulut dan mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis). Pada bulan Maret 2014, WHO untuk kawasan Asia Tenggara, menyatakan bahwa kawasan Asia Tenggara telah bebas dari polio, karena itu vaksinasi polio pada bayi sudah tidak perlu diberikan lagi. Polio sudah dikenal sejak zaman pra-sejarah. Lukisan dinding di kuil-kuil Mesir kuno yang menggambarkan orang-orang sehat dengan kaki layu yang berjalan dengan tongkat. Kaisar Romawi Claudius terserang polio ketika masih kanak-kanak dan menjadi pincang seumur hidupnya.

Virus polio menyerang tanpa peringatan, merusak sistem saraf menimbulkan kelumpuhan permanen, biasanya pada kaki. Sejumlah besar penderita meninggal karena tidak dapat menggerakkan otot pernapasan. Ketika polio menyerang Amerika selama dasawarsa seusai Perang Dunia II, penyakit itu disebut ‘momok semua orang tua’, karena menjangkiti anak-anak terutama yang berumur di bawah lima tahun. Di sana para orang tua tidak membiarkan anak mereka keluar rumah, gedung-gedung bioskop dikunci, kolam renang, sekolah dan bahkan gereja di tutup.

Virus polio

Poliovirus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas tiga strain berbeda dan sangat menular. Virus akan menyerang sistem saraf dan kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa mengenal usia, lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari. Polio adalah penyakit menular yang dikategorikan sebagai penyakit peradaban. Polio menular melalui kontak antarmanusia. Polio dapat menyebar luas diam-diam karena sebagian besar penderita yang terinfeksi poliovirus tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka sendiri sedang terjangkit. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Setelah seseorang terkena infeksi, virus akan keluar melalui feses selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus.

Jenis Polio

Polio non-paralisis.
Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh.

Polio paralisis spinal
Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai. Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadi pada kaki. Setelah virus polio menyerang usus, virus ini akan diserap oleh pembulu darah kapiler pada dinding usus dan diangkut seluruh tubuh. Virus Polio menyerang saraf tulang belakang dan syaraf motorik yang mengontrol gerakan fisik. Pada periode inilah muncul gejala seperti flu. Namun, pada penderita yang tidak memiliki kekebalan atau belum divaksinasi, virus ini biasanya akan menyerang seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batang otak. Infeksi ini akan memengaruhi sistem saraf pusat, menyebar sepanjang serabut saraf.

Polio bulbar
Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung syaraf motorik yang mengatur pernapasan dan saraf kranial, yang mengirim sinyal ke berbagai syaraf yang mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka; saraf auditori yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbagai fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa; dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher. Tanpa alat bantu pernapasan, polio bulbar dapat menyebabkan kematian. Lima hingga sepuluh persen penderita yang menderita polio bulbar akan meninggal ketika otot pernapasan mereka tidak dapat bekerja. Kematian biasanya terjadi setelah terjadi kerusakan pada saraf kranial yang bertugas mengirim 'perintah bernapas' ke paru-paru. Penderita juga dapat meninggal karena kerusakan pada fungsi penelanan; korban dapat 'tenggelam' dalam sekresinya sendiri kecuali dilakukan penyedotan atau diberi perlakuan trakeostomi untuk menyedot cairan yang disekresikan sebelum masuk ke dalam paru-paru. Namun trakesotomi juga sulit dilakukan apabila penderita telah menggunakan 'paru-paru besi' (iron lung). Tingkat kematian karena polio bulbar berkisar 25-75% tergantung usia penderita. Hingga saat ini, mereka yang bertahan hidup dari polio jenis ini harus hidup dengan paru-paru besi atau alat bantu pernapasan. Polio bulbar dan spinal sering menyerang bersamaan dan merupakan sub kelas dari polio paralisis. Polio paralisis tidak bersifat permanen. Penderita yang sembuh dapat memiliki fungsi tubuh yang mendekati normal.

 Anak-anak dan polio

Anak - anak kecil yang terkena polio seringkali hanya mengalami gejala ringan dan menjadi kebal terhadap polio. Karenanya, penduduk di daerah yang memiliki sanitasi baik justru menjadi lebih rentan terhadap polio karena tidak menderita polio ketika masih kecil. Vaksinasi pada saat balita akan sangat membantu pencegahan polio pada masa depan karena polio menjadi lebih berbahaya jika diderita oleh orang dewasa. Orang yang telah menderita polio bukan tidak mungkin akan mengalami gejala tambahan pada masa depan seperti layu otot atau gejala ini disebut sindrom post-polio.

 GEJALA

Terdapat 3 pola dasar pada infeksi polio:
Infeksi subklinis, Non-paralitik dan Paralitik. 95% kasus merupakan infeksi subklinis. Poliomielitis klinis menyerang sistem saraf pusat (otak dan korda spinalis) serta erbagi menjadi non-paralitik serta paralitik. Infeksi klinis bisa terjadi setelah penderita sembuh dari suatu infeksi subklinis.

Infeksi subklinis (tanpa gejala atau gejala berlangsung selama kurang dari 72 jam)
  1. demam ringan
  2. sakit kepala
  3. tidak enak badan
  4. nyeri tenggorokan
  5. tenggorokan tampak merah
  6. muntah.
Poliomielitis non-paralitik (gejala berlangsung selama 1-2 minggu)
  1. demam sedang
  2. sakit kepala
  3. kaku kuduk
  4. muntah
  5. diare
  6. kelelahan yang luar biasa
  7. rewel
  8. nyeri atau kaku punggung, lengan, tungkai, perut
  9. kejang dan nyeri otot
  10. nyeri leher
  11. nyeri leher bagian depan
  12. kaku kuduk
  13. nyeri punggung
  14. nyeri tungkai (otot betis)
  15. ruam kulit atau luka di kulit yang terasa nyeri
  16. kekakuan otot.
  17. Poliomielitis paralitik
  18. demam timbul 5-7 hari sebelum gejala lainnya
  19. sakit kepala
  20. kaku kuduk dan punggung
  21. kelemahan otot asimetrik
  22. onsetnya cepat
  23. segera berkembang menjadi kelumpuhan
  24. lokasinya tergantung kepada bagian korda spinalis yang terkena
  25. perasaan ganjil/aneh di daerah yang terkena (seperti tertusuk jarum)
  26. peka terhadap sentuhan (sentuhan ringan bisa menimbulkan nyeri)
  27. sulit untuk memulai proses berkemih
  28. sembelit
  29. perut kembung
  30. gangguan menelan
  31. nyeri otot
  32. kejang otot, terutama otot betis, leher atau punggung
  33. ngiler
  34. gangguan pernafasan
  35. rewel atau tidak dapat mengendalikan emosi
  36. refleks Babinski positif.

Vaksin efektif pertama

Vaksin efektif pertama dikembangkan oleh Jonas Salk. Salk menolak untuk mematenkan vaksin ini karena menurutnya vaksin ini milik semua orang seperti halnya sinar matahari. Namun vaksin yang digunakan untuk inokulasi masal adalah vaksin yang dikembangkan oleh Albert Sabin. Inokulasi pencegahan polio anak untuk pertama kalinya diselenggarakan di Pittsburgh, Pennsylvania pada 23 Februari 1954. Polio hilang di Amerika pada tahun 1979.

Usaha pemberantasan polio

Pada tahun 1938, Presiden Roosevelt mendirikan Yayasan Nasional Bagi Kelumpuhan Anak-Anak, yang bertujuan menemukan pencegah polio dan merawat mereka yang sudah terjangkit oleh polio. Yayasan itu membentuk March of Dimes. Ibu-ibu melakukan kunjungan dari rumah ke rumah lalu anak-anak membantu melakukan sesuatu untuk orang lain, bioskop memasang iklan, semuanya bertujuan minta bantuan satu dime, atau sepuluh sen. Dana yang masuk waktu itu digunakan untuk membiayai penelitian Dokter Jonas Salk yang menghasilkan vaksin efektif pertama. Tahun 1952, di Amerika terdapat 58 ribu kasus polio. Tahun 1955 vaksin Salk mulai digunakan. Tahun 1963, setelah puluhan juta anak divaksin, di Amerika hanya ada 396 kasus polio.

Pada tahun 1955, Presiden Dwight Eisenhower mengumumkan bahwa Amerika akan mengajarkan kepada negara-negara lain cara membuat vaksin polio. Informasi ini diberikan secara gratis, kepada 75 negara, termasuk Uni Soviet. Tahun 1988, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mensahkan resolusi untuk menghapus polio sebelum tahun 2000. Pada saat itu masih terdapat sekitar 350 ribu kasus polio di seluruh dunia termasuk Indonesia. Meskipun pada tahun 2000 polio masih belum terbasmi secara seutuhnya, tetapi jumlah kasusnya telah berkurang hingga di bawah 500. Polio tidak ada lagi di Asia Timur, Amerika Latin, Timur Tengah atau Eropa, tetapi masih terdapat di Nigeria dan sejumlah kecil di India dan Pakistan. India telah melakukan usaha pemberantasan polio yang cukup sukses. Sedangkan di Nigeria, penyakit ini masih terus berjangkit karena pemerintah yang berkuasa mencurigai vaksin polio yang diberikan dapat mengurangi fertilitas dan menyebarkan HIV. Pada tahun 2004, pemerintah Nigeria meminta WHO untuk melakukan vaksinasi lagi setelah penyakit polio kembali menyebar ke seluruh Nigeria dan 10 negara tetangganya. Konflik internal dan perang saudara di Sudan dan Pantai Gading juga mempersulit pemberian vaksin polio.

Meskipun banyak usaha telah dilakukan, pada tahun 2004 angka infeksi polio meningkat menjadi 1.185 di 17 negara dari 784 di 15 negara pada tahun 2003. Sebagian penderita berada di Asia dan 1.037 ada di Afrika. Nigeria memiliki 763 penderita, India 129, dan Sudan 112. Pada 5 Mei 2005, dilaporkan terjadi ledakan infeksi polio di Sukabumi akibat strain virus yang menyebabkan wabah di Nigeria. Virus ini diperkirakan terbawa dari Nigeria ke Arab dan sampai ke Indonesia melalui tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Arab atau orang yang bepergian ke Arab untuk haji atau hal lainnya.

Pencegahan Polio

Vaksin polio merupakan bagian dari imunisasi rutin pada masa kanak-kanak.
Terdapat 2 jenis vaksin polio: Vaksin Salk, merupakan vaksin virus polio yang tidak aktif dan Vaksin Sabin, merupakan vaksin virus polio hidup. Yang memberikan kekebalan yang lebih baik (sampai lebih dari 90%) dan yang lebih disukai adalah vaksin Sabin per-oral (melalui mulut). Tetapi pada penderita gangguan sistem kekebalan, vaksin polio hidup bisa menyebabkan polio. Karena itu vaksin ini tidak diberikan kepada penderita gangguan sistem kekebalan atau orang yang berhubungan dekat dengan penderita gangguan sistem kekebalan karean virus yang hidup dikeluarkan melalui tinja. Dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio dan hendak mengadakan perjalanan ke daerah yang masih sering terjadi polio, sebaiknya menjalani vaksinasi terlebih dahulu.


HEAD OFFICE
Jl.Purnawirawan (Gg.Ratu) NO.18 Gedong Meneng, Bandar Lampung. Indonesia
Telp. 0721-712029




Selasa, 16 September 2014

Penyakit yang disebut Chagas ini disebut sebagai penyakit AIDS baru di Amerika karena efek dari penyebarannya butuh waktu bertahun-tahun baru dapat terdeteksi dan pada saat itu pula penanganan sudah terlambat. Penyakit ini dapat membuat jantung bengkak dan meledak. Sebuah penelitian di Amerika menunjukkan ada satu penyakit baru yang muncul sejak 2004 lalu. Penyakit ini telah menjangkiti beberapa orang di Amerika dan Asia. Anehnya, si penyakit memiliki gejala mirip AIDS.

Meski bergejala seperti AIDS, namun dokter dan peneliti tak yakin jika penyakit ini berawal dari HIV. Alasannya, pertama, penyakit ini tak pindah antarmanusia melalui virus layaknya HIV. Kedua, virus HIV secara spesifik menyerang sistem kekebalan tubuh dan sangat cepat membunuh sel T. Penyakit mirip AIDS ini memang tak langsung menyerang sistem kekebalan tubuh. Tapi lambat laun, si pengidap bakal mengalami kerusakan pada sistem kekebalan tubuhnya. Akibatnya, mereka tak lagi dapat menangkis infeksi yang masuk ke tubuh. Tidak seperti orang sehat pada umumnya. Penyakit ini adalah jenis lain dari Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Terjadi pada orang dewasa dan tidak menurun.

Menurut peneliti, ukuran orang dewasa yang dapat mengidap penyakit ini adalah mereka yang berusia di atas 50 tahun. Dan berdasarkan riwayat kesehatan, biasanya penyakit ini hanya dialami satu orang dalam sebuah keluarga. Tak ada penularan atau penurunan penyakit dalam keluarga si pasien. Selama ini, sebagian besar pasien pengidap infeksi ini hidup di Asia. Namun berapa jumlah mereka yang mengidap karenanya, belum bisa diketahui. Sebab pasien yang meninggal itu kerap dikaitkan dengan pelbagai penyakit. Pada 2009, seorang perempuan Vietnam yang telah menetap di Tennessee, Amerika sejak 1975, pulang ke kampung halamannya di 1995. Sekitar pertengahan 2009, ia mengalami demam berkesinambungan serta infeksi. Ketika itu umurnya 62 tahun. Dalam waktu singkat, infeksi itu menyerang tulangnya dan menimbulkan banyak gejala aneh. Berat badannya pun turun drastis. Dari 45 kilogram menjadi 31 kilogram. Hingga kini, peneliti dan dokter belum mengetahui penyebab infeksi itu. Mereka masih mempelajarinya. Meski demikian, para peneliti yakin bila banyak pasien yang telah mengalami kasus ini. Hanya saja, tak banyak dokter yang menyadarinya.

Para ahli menduga bahwa penyakit ini sejenis dengan penyakit AIDS hanya saja lebih mematikan. Ilmuwan akhirnya berhasil mengidentifikasi sebuah serangga pemakan darah yang diklaim menyebarkan penyakit “AIDS versi baru". Bedanya penyakit yang ditularkan bukan berupa penyakit AIDS dalam arti sebenarnya, melainkan wabah penyakit yang disebut Chagas. Warga Amerika Latin mulai banyak yang terserang oleh panyakit yang diberi nama Chagas ini. Chagas diambil dari nama belakang si penemu penyakit jenis ini pada tahun 1909, yaitu Carlos Ribeiro Justiniano Chagas. Penyakit yang telah lama ada namun baru diselidiki lebih dalam lagi ini disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh seekor serangga kecil bersayap dan biasanya berwarna hitam.
Serangga ini adalah Triatomine, Triatome, Triatoma atau Triatominae, yang juga serangga penghisap darah manusia dan menularkan virusnya melalui gigitannya.


Serangga Triatomine / Triatome / Triatoma / Triatominae jenis serangga yang menularkan penyakit Chagas.









Jantung yang terkena Chagas. Akan meracuni tubuh manusia yang digigitnya dengan penyakit yang disebut dengan Chagas ini, yakni sebuah penyakit parasit tropis yang disebabkan oleh protozoa ber-flagel. Menurut catatan jurnal PLoS Neglected Tropical Diseases, penyakit Chagas akan mengakibatkan pembengkakan di bagian jantung. Jika sudah parah, organ ini bisa pecah dan menyebabkan kematian mendadak. Yang membuat para ilmuwan khawatir, penyakit Chagas ini sulit untuk dideteksi dan butuh waktu hingga bertahun-tahun hingga akhirnya muncul gejala.

Dengan alasan itulah kini serangga Triatome dijuluki sebagai ‘AIDS baru di benua Amerika‘. Masalahnya adalah virus penyakit Chagas ini gampang tersebar, seperti melalui transfusi darah atau bawaan gen turunan (layaknya penyebaran virus HIV), tapi tidak dapat menular dari hubungan intim, seperti kebanyakan kasus penularan virus HIV.
Sayangnya, gejala penyakit ini sangat sulit untuk diketahui sejak awal.
Penyakit Chagas ini membutuhkan waktu bertahun-tahun baru dapat dideteksi, mirip dengan AIDS, sehingga kemungkinannya sangat kecil untuk melakukan pengobatan dini.
Kalau pun dapat dideteksi dini, maka pengobatan tercepat bisa membutuhkan waktu selama 3 bulan. Lebih parah, penyakit ini banyak menyerang penduduk-penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
Penyakit ini merebak di antara penduduk miskin entah karena lingkungan yang kotor yang menjadikan tempat perkembangbiakan serangga Triatoma ini semakin meluas atau karena ketidakpedulian warga terhadap sakit yang mereka derita sehingga mereka tidak pernah memeriksakan kesehatan mereka ke dokter karena tidak adanya biaya untuk memeriksakan diri mereka.



faktor yang paling utama dari peningkatan penyebaran virus ini adalah perubahan iklim. Perubahan iklim bumi yang menjadi semakin hangat ini memungkinkan si serangga membawa virus ke daerah bagian utara. Penyakit ini sudah mulai mewabah di Amerika Tengah dan Amerika Selatan (Bolivia, Meksiko, Kolombia) dan beberapa negara Eropa. Kini penyakit yang pada awalnya tersebar di Meksiko, Bolivia, Kolombia hingga Amerika Tengah saja, kini telah beradaptasi dan telah menyebar luas ke wilayah Amerika Serikat (AS).
Penyebarannyapun sama seperti HIV, dimana infeksi bisa terjadi antara sesama manusia melalui transfusi darah atau ibu yang mengandung anaknya.

Setidaknya ada sekitar 10 juta orang diseluruh dunia sudah terinfeksi penyakit ini, dengan 10 ribu orang diantaranya dikabarkan meninggal pada tahun 2008 silam. Menurut Nature Magazine ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa penyakit inilah yang membunuh Charles Darwin, seorang bapak evolusi yang teori evolusinya sangat dikenal sampai saat ini.
Sebuah penelitian mengungkap kebenaran ini bahwa pada perjalanan 5 tahun yang dilakukan Darwin ketika berusia 20 tahunan, ia terinfeksi virus ini dan kemudian dikabarkan meninggal akibat gagal jantung. Seperti yang dikatakan oleh para ahli bahwa setiap orang yang terjangkit penyakit mematikan ini akan mengalami peradangan pada jantungnya sehingga jantung orang tersebut akan membesar, bisa meledak dan mampu merenggut nyawa orang tersebut seketika itu juga. Itulah tentang penyakit Chagas yang baru-baru ini tersebar di benua Amerika dan Eropa dan dikenal sebagai penyakit “AIDS terbaru”. 

Mungkin sudah saatnya juga penduduk dunia mulai berhati-hati pada setiap kemungkinan penyakit aneh yang muncul di muka Bumi ini, mengingat bahwa beberapa penyakit yang telah lama hilang dapat muncul kembali karena berhasil dibiakkan kembali oleh “tangan-tangan jahil”. Dengan begitu, seluruh negara Indonesia maupun luar negeri harus lebih menjaga kesehatan tubuh dan anti body harus lebih ditingkatkan. 



Apa Yang Dimaksud Dengan Hipopituitarisme?


Hipopituitarisme atau Hipofisis merupakan sebuah kelenjar sebesar kacang polong,
yang terletak di dalam struktur bertulang (sela tursika) di dasar otak. Sela tursika melindungi hipofisa tetapi memberikan ruang yang sangat kecil untuk mengembang.
Jika hipofisa membesar, akan cenderung mendorong ke atas, seringkali menekan daerah otak yang membawa sinyal dari mata dan mungkin akan menyebabkan sakit kepala atau gangguan penglihatan. Selain itu banyak gangguan lain yang disebabkan karena kelebihan hormone yang dilepaskan hipofisis yang bisa menghasilkan dampak yang cukup signifikan bagi pasien. kondisi medis yang di tandai dengan ketidak cukupan produksi dari satu atau lebih hormon-hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofise.


Kelenjar hipofise adalah kelenjar kecil yang terletak pada otak tepat di bawah hipotalamus. Kelenjar ini berperan dalam mensekresi hormon-hormon, seperto adrenocorticotropic hormone (merangsang kelenjar adrenal melepaskan kortisol), antidiuretic hormone (mengatur cairan di ginjal), growth hormone (meningkatkan pertumbuhan tulang dan jaringan), prolaktin (meningkatkan perkembangan payudara dan produksi susu), thyroid stimulating hormone (meningkatkan pelepasan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid), Oksitosin (merangsang pelepasan air susu dari payudara dan kontraksi rahim), follicle stimulating hormone dan luteinizing hormone (mengatur fungsi seksual dan kesuburan pada pria dan wanita). Ketidak cukupan dari salah satu hormon-hormon ini akan sangat berdampak pada fungsi normal tubuh dan gejala-gejalanya tergantung dari hormon mana yang kekurangan. Penanganan seumur hidup dengan terapi pengganti hormon yang kurang diperlukan untuk mengendalikan gejala karena tidak ada penyembuhan untuk hipopituitarisme. 
Spesialisasi Medis dan Fokus Klinik
  • Endokrinologi
  • Pediatri
  • Neuroendokrinologi
  • Endokrinologi Metabolisme dan Diabetes
  • Endokrinologi Pediatri


Tanda dan gejala Hipopituitarisme yang mungkin timbul:

  • Haid yang tidak beraturan
  • Kehilangan selera makan
  • Kekurangan dorongan seksual
  • Kelelahan
  • Ketidaknyamanan saat buang air besar
  • Kulit yang kering dan kasar pada daerah yang terkena
  • Memiliki kesulitan dengan penglihatan periferal (samping)
  • Menderita Amenore
  • Menderita Anemia
  • Menderita Disfungsi Ereksi
  • Menderita Infertilitas (Ketidaksuburan)
  • Menderita Sakit Kepala
  • Mengalami kesulitan dalam menghasilkan susu untuk menyusui
  • Penurunan berat badan yang tidak diinginkan
  • Perasaan hangat yang menyebar pada tubuh (kilas panas)
  • Perawakan pendek
  • Sensitif terhadap dingin
  • Sering buang air kecil
  • Wajah yang bengkak

Diagnosa Hipopituitarisme

Khusus untuk penyakit ini, penderita akan didiagnosis untuk mengetahui kelainan struktural pada hipofisa dan untuk mengetahui itu dilakukan beberapa pemeriksaan seperti CT scan atau MRI. Selain juga akan dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar hormon yang ada dalam tubuh. Perlu diketahui juga bahwa dengan diagnosis maka dapat ditemukan berbagai penyebab dan gejala penyakit ini, selain juga akan diketahui tingkatan penyakit yang turut menentukan metode pengobatan yang tepat untuk diberikan kepada penderita.

Pengobatan Hipopituitarisme


Pengobatan dilakukan dengan melihat hasil diagnosis yang sudah menemukan tingkatan penyakit ini, sehingga metode pengobatan yang dilakukan juga dapat sesuai. Adapun tujuan utama dari pengobatan penyakit ini adalah untuk menggantikan kekurangan hormon, misalnya jika penderita mengalami kekurangan hormone tiroid maka harus diberikan hormon tiroid. 


hiperpituitarisme yaitu suatu kondisi patologis yang terjadi akibat tumor atau hyperplasia hipofisis sehingga menyebabkan peningkatan sekresi salah satu hormone hipofisis atau lebih. Hipopituitari mengacu kepada keadaan sekresi beberapa hormone hipofisis anterior yang sangat rendah. Panhipopituirarisme mengacu pada penurunan sekresi semua hormone pituitarisme. Semoga Artikel HOS kali ini bermanfaat bagi para pembaca.



Head Office 
Jl. Purnawirawan (Gg.Ratu) No.18 Gedong Meneng, Bandar Lampung. Indonesia
Telp. 0721-712029

HOS Dokumenter

Translate

Tayangan

Diberdayakan oleh Blogger.

HOUSE OF SUCCESS

- Privat Master Hipnotis - Pelatihan Profesional Hipnoterapi - Fingerprint Analysis - Penyalur Jasa Layanan Kerja Profesional

Quotes

"...MEMULAI TAK PERLU HEBAT, TAPI UNTUK HEBAT WAJIB BERANI MEMULAI..."

The New News

HADIRI STAND PAMERAN DI "MALL BOEMI KEDATON" BANDAR LAMPUNG Lt.1 (Basement depan Pintu Masuk) dan dapatkan Spesial Promo bersama HOUSE OF SUCCESS setiap hari Pkl. 11.00 s/d 20.00 Wib Sampai akhir tahun 2014.
Jl. Purnawirawan ( Ratu ) No. 18, Gedung Meneng, Bandar Lampung, Indonesia. Telp. ( 0721 ) 712029 atau Invite pin bb kami 7E64EBF .

Popular Posts